Bapak Katak dan Selokannya
Di tepi hutan yang rimbun, ada sebuah selokan kecil yang jarang diperhatikan siapa pun. Namun, bagi Bapak Katak, selokan itu adalah tempat terbaik di seluruh dunia. Ia merasa selokan itu adalah wilayah kebesarannya, dan tidak ada tempat lain yang bisa menandinginya.
Setiap hari, Bapak Katak melompat keluar dari
selokan, dada dibusungkan, dan mulai bercerita kepada siapa pun yang
ditemuinya.
“Tahukah kalian,” katanya lantang, “Aku tinggal
di selokan paling hebat! Airnya mengalir sepanjang tahun, dan penuh makanan
lezat seperti jentik nyamuk dan larva serangga. Tidak ada tempat yang lebih
nyaman daripada selokanku!”
Hewan-hewan di hutan sebenarnya bosan mendengar
cerita itu. Hampir setiap hari, Bapak Katak mengulang kisah yang sama. Tapi
agar tidak menyinggung perasaannya, mereka hanya menjawab singkat sambil
tersenyum kecil:
“Wah, itu keren, Pak Katak.”
Suatu hari, Bapak Katak bertemu Singa, raja hutan
yang sedang berpatroli.
“Halo Singa! Kamu harus tahu, aku tinggal di
selokan terbaik di dunia! Aku bahkan merasa selokan itu milikku dan aku yang
paling berjasa membuatnya ramai! Semua hewan air pasti iri padaku!”
Singa menghela napas. Ia tidak ingin
memperpanjang percakapan.
“Wah, itu hebat,” jawab Singa singkat.
Namun dalam hatinya ia berkata,
“Aku menguasai seluruh hutan, tapi aku tidak
perlu berteriak memuji diri sendiri setiap hari. Kenapa katak ini begitu
sombong hanya karena selokan kecil?”
Tanpa banyak bicara lagi, Singa pun pergi.
Bapak Katak lalu bertemu Burung Jalak yang baru
saja hinggap di ranting dekat selokan.
“Jalak! Kamu harus lihat selokanku! Tempat itu
sangat luar biasa, tidak seperti tempat lain!”
Burung Jalak menjawab ramah:
“Wah, kelihatannya menarik.”
Namun dalam hatinya ia berkata,
“Aku sudah terbang tinggi melihat gunung, sungai,
dan laut di kejauhan. Dunia ini sangat luas. Tapi katak ini begitu berlebihan
menceritakan selokan kecil itu.”
Tidak jauh dari sana, Bapak Katak meloncat menuju
danau dan bertemu seekor Ikan yang ramah.
“Ikan! Kamu pasti iri, aku tinggal di selokan
yang kaya makanan dan nyaman sekali!”
Ikan tersenyum sopan.
“Wah, mantap!”
Namun dalam hati ia berkata,
“Katak... kenapa kamu tidak mencoba menyelam ke
danau ini? Dunia air lebih luas daripada selokan kecil itu. Jangan hanya bangga
pada tempat yang kecil sementara dunia begitu luas.”
Hari demi hari, Bapak Katak tetap memamerkan selokannya seakan-akan itu
adalah pencapaian terbesar di dunia. Saat kembali ke rumah, ia duduk di depan
keluarganya dan mulai lagi bercerita.
“Kalian tahu? Tidak ada katak yang lebih hebat
dariku. Aku menemukan selokan yang paling aman dan paling kaya makanan. Semua
hewan di hutan kagum padaku!”
Anak-anak katak hanya saling berpandangan.
Mereka tersenyum kecil, tapi senyum itu bukan senyum bahagia—melainkan senyum
menjaga perasaan.
“Iya, Bapak. Terima kasih, Bapak hebat,” jawab
mereka sopan seperti biasa.
Namun, di dalam hati mereka ada sesuatu yang
lama mereka pendam:
“Bapak tidak
pernah bertanya bagaimana hari kami…”
“Bapak tidak pernah mendengarkan cerita kami…”
“Kami ingin Bapak hadir, bukan hanya bicara
tentang dirinya sendiri…”
Ibu Katak menatap suaminya dengan lembut.
Sebenarnya, yang mereka butuhkan bukan kebanggaan sang ayah—yang mereka
butuhkan adalah perhatian. Anak-anak ingin ditanya apa yang mereka
pelajari hari ini, apa tantangan yang mereka hadapi, dan bagaimana ayah mereka
bisa membantu. Tapi sayangnya, Bapak Katak terlalu sibuk membanggakan
pencapaiannya sendiri hingga lupa melihat hati keluarganya.

Comments
Post a Comment